Jumat, 21 Oktober 2011

Shalat Berjamaah


Madrasah                   : MTs
Kelas/Semester           : VII/ I
Mata Pelajaran          : Fikih

Standar Kompetensi
3. Melaksanakan Tata Cara Adzan, Iqamah ,dan Shalat Jamaah
Kompetensi Dasar
3.2. Menjelaskan  Ketentuan Shalat berjamaah
Indikator
3.2.1. Menjelaskan pengertian shalat berjamaa’ah
3.2.2. Menjelaskan hukum shalat berjama’ah
3.2.3. Menjelaskan syarat-syarat menjadi imam dan makmum          
3.2.4. Menjelaskan tata cara membuat shaf (baris) dalam berjama’ah
3.2.5. Mampu menyebutkan hikmah dari shalat berjamaah
Materi
SHALAT JAMAAH”







PEMBAHASAN
3.2.1. Pengertian Shalat Berjamaah
Secara bahasa, kata jamaah memiliki pengertian kumpulan atau bersama-sama. Menurut istilah shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan bersama-sama sekurang-kurangnya oleh dua orang atau lebih. Salah satunya menjadi pemimpin atau imam, sedangkan yang lain menjadi makmum.
Berkaitan dengan shalat berjamaah Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 43 :
#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨9$# (#qãèx.ö$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ
Yang Artinya : “Dan Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'[44]”.
[44]  yang dimaksud ialah: shalat berjama'ah dan dapat pula diartikan: tunduklah kepada perintah-perintah Allah bersama-sama orang-orang yang tunduk.
Surah ini menunjukkan bahwa kita diperingatkan oleh Allah SWT. untuk mengikuti shalat dengan berjamaah, selanjutnya pada surah An-Nisa’ ayat 102 Allah SWT. juga berfirman :
#sŒÎ)ur |MZä. öNÍkŽÏù |MôJs%r'sù ãNßgs9 no4qn=¢Á9$# öNà)tFù=sù ×pxÿͬ!$sÛ Nåk÷]ÏiB y7tè¨B (#ÿrääzù'uø9ur öNåktJysÎ=ór&
Yang artinya : “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, ………”
Sabda Rasulullah saw. yang artinya ; “Diriwayatkan Abu Hurairah r.a. Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda; shalat jamaah itu lebih utama daripada sholat seorang diri”. (H.R. Bukhori Muslim).

3.2.2. Hukum Shalat Berjamaah
Shalat berjamaah hukumnya sunah muakad (sunah yang dikuatkan), artinya Shalat berjamaah sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw. (terutama bagi laki-laki) dan dilakukan di masjid. Rasulullah saw. bersabda yang artinya : “Seandainya tidak ada perempuan-perempuan dan anak-anak yang ada di rumah, aku kerjakan shalat isya’ di masjid dan aku suruh para pemuda-pemuda untuk membakar rumah itu beserta isinya”. (H.R. Ahmad dari Abu Hurairah ; 8441).
Hadits ini menunjukkan betapa kesungguhan Rasulullah saw. dalam menganjurkan shalat berjamaah di masjid (khususnya bagi laki-laki). Dalam hal shalat secara berjamaah bagi perempuan, Rasul saw. pernah berkata : “Janganlah kamu melarang perempuan-perempuan ke masjid, walaupun rumah mereka lebih baik bagi mereka (buat berjamaah)”. (H.R. Abu Dawud dari Ibnu Umar : 486)
3.2.3. Syarat menjadi Imam dan Makmum
Imam adalah pemimpin. Imam dalam shalat adalah orang yang memimpin shalat dan berdiri paling depan atau di depan makmum. Gerakan imam dalam shalat harus diikuti oleh makmum.
Syarat menjadi Imam antara lain :
-          Orang memiliki kemampuan dalam membaca Al-Qur’an (Fasih bacaanya)
-          Orang yang memiliki kemampuan dalam hadits Nabi saw.
-          Orang yang dulu hijrah atau lebih dulu masuk islam.
-          Orang yang tertua usianya.
Makmum adalah orang yang dipimpin atau diimami dalam shalat berjamaah. Syarat-syarat makmuk ialah ;
-          Makmum berniat mengikuti imam
-          Makmum harus mengikuti gerakan imam
-          Makmum harus mengetahui gerak-gerik imam
-          Berada dalam satu bangunan atau tempat
Tata cara shalat berjamaah, antara lain ;
1.      Dalam bacaannya atau gerakan makmum melakukannya setelah imam
2.      Disaat imam membaca surah Al-Fatihah makmum mendengarkannya, Rasulullah saw. bersabda yang artinya : “Dijadikan imam untuk diikuti, maka jika imam membaca (Al-Qur’an) perhatikan dengan tenang”. (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Nasa’I dari Abu Hurairah r.a.)
Bila imam membaca secara jahar maka makmum cukup mendengarkan, bacaan imam sudah mewakili makmum, Rasulullah saw. bersabda : “Barang siapa yang shalat di belakang imam maka bacaan imam adalah bacaan baginya (makmum)”. (H.R. Dinnu quthin dari Abdullah bin Syadl)
Ketika imam membaca dengan perlahan maka makmum wajib membacanya.
3.      Ketika berdiri dari ruku’ imam membaca “Sami’allahuliman hamidah” maka makmum membaca “Allahumma Rabbana lakal hamdu”.
3.2.4.      Pengaturan Shaf (barisan) dalam Shalat Berjamaah
Dalam shalat berjamaah, seorang imam disunahkan memerintahkan makmumnya untuk merapatkan dan meluruskan barisannya (shaf) sebelum shalat dimulai. Karena shaf (barisan) dalam shalat berjamaah yang rapat dan lurus dapat menambah kesempurnaan shalat berjamaah.
Pengaturan shaf dalam shalat berjamaah antara lain :
1.      Apabila makmum hanya satu orang, maka disunahkan berdiri sebelah kanan imam (sejajar). Apabila makmum dua orang atau lebih maka posisinya harus dibelakang imam.
2.      Apabila makmum terdiri dari laki-laki dan perempuan. Hendaknya makmum laki-laki berada di belakang imam sedangkan makmum perempuan berada di belakang makmum laki-laki.
3.      Jika makmum terdiri dari laki-laki, perempuan dan anak-anak. Maka makmum laki-laki dewasa berada dipaling depan di belakang imam kemudian remaja dan anak-anak. Sedangkan makmum perempuan berada dipaling belakang shaf, di depannya remaja dan paling depan adalah anak perempuan. ( berdasarkan H.R. Muslim)
3.2.5        Hikmah Shalat Berjamaah
Hikmah shalat berjamaah sangat banyak, bagi pribadi maupun masyarakat dan syi’ar islam. Hikmah shalat berjamaah antara lain :
a.       Melakukan shalat berjamaah secara terus-menerus dan tetap, maka orang yang belum sempurna ibadahnya sedikit demi sedikit dapat memperbaiki ibadahnya sehingga mencapai tingkat kesempurnaan.
b.      Shalat berjamaah menghasilkan kekhusyu’an karena dilakukan bersama-sama dengan suasana yang khitmad dan tenang.
c.       Menghidupkan rasa persamaan, persaudaraan dan persatuan dikalangan umat islam.
d.      Mendidik agar taat dan patuh terhadap pemimpin dan sikap disiplin.
e.       Shalat berjamaah mempunyai kandungan fadhilah yang banyak dibandingkan dengan shalat sendiri. Sabda Nabi Muhammad saw. :
Shalat jamaah itu memilebihi shalat yang dilakukan sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat”. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).













PENUTUP
  1. Kesimpulan
1.      Pengertian shalat berjamaah adalah shalat yang dilakukan dengan cara bersama-sama oleh dua orang atau lebih dan dipimpin oleh seorang imam, sedagkan yang lain menjadi makmum.
2.      Hukum shalat berjamaah adalah sunah muakad (sunah yang dikuatkan).
3.      Syarat Imam dan Makmum
a.       Syarat Imam
-          Fasih dalam membaca ayat Al-Qur’an
-          Mempunyai kemampuan dalam hadits
-          Yang paling dulu mengikuti hijrah atau paling dulu masuk islam
-          Orang yang tertua
b.      Syarat Makmum
-          Berniat mengikuti imam
-          Harus mengetahui gerakan imam
-          Mengetahui gerak-gerik imam
-          Berada dalam satu waktu dan tempat
4.      Pengaturan Shaf dalam Shalat
·         Jika dalam shalat jamaah terdiri dari dua orang maka posisi makmum berada di samping kanan imam (sejajar). Bila dua orang atau lebih maka berada di belakang imam.
·         Jika makmum terdiri laki-laki dan perempuan, maka makmum laki berada paling depan di belakang imam dan makmum perempuan berada di belakang sendiri.
·         Apabila makmum terdiri dari laki-laki, perempuan dewasa, remaja dan anak-anak. Maka Makmum laki-laki berada paling depan dilanjutkan remaja laki-laki, anak laki-laki serta anak perempuan, remaja perempuan dan paling belakang perempuan dewasa..
5.      Hikmah shalat berjamaah
-          Dapat menyempunakan ibadah kita
-          Mendapatkan pahala yang lebih
-          Meningkatkan rasa ukhuwah islamiyah
-          Mendidik agar taat, patuh pada pemimpin dan disiplin, dan msih banyak lagi hikmah-hikmah yang terkandung dalam shalat jamaah.
B.     Saran
Dengan ucapan syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi kesempatan dan kemudahan penulis dalam menyelesaikan makalah ini, walaupun jauh dari yang diharapkan.
Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah ini.
Sebagai hamba Allah yang lemah ini menyadari dengan sepenuh hati bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan yang diinginkan, maka penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Mundziri, Imam. Achmad Zaidun. 2000. Ringkasan Shahih Muslim. Jakarta : Pustaka Amni.
Ibrahim, T dan Darsono. 2009. Penerapan Fikih Jilid I Kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Solo : PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Mukhtar, Drs. Yusuf. Drs. H. Dahlan, Zulkifli, BA dan Drs. H. Tarmizi T. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta : Direktorat Jenderal Kelembagaan Islam.
Rifa’i, Drs. Moh. 1998. Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Semarang : CV. Toha Putra.

Senin, 12 September 2011

Ijarah


BAB I
Pendahuluan
A.    Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat memiliki kebutuhan yang bermacam-macam. Kebutuhan tersebut adakalanya kebutuhan primer, sekunder maupun tersier. Adakalnya seseorang tidak bisa memenuhi kebutuhunya karena kurangnya dana. Dan ada seseorang yang dalam mencukupi kebutuhanya memerlukan bantuan orang lain. Dari kedua kasus orang ini, dalam mencukupi kebutuhan hidupnya masing-masing bisa melakukan akad ijarah atau sewa-menyewa, yaitu memberikan suatu benda kepada seseorang untuk diambil manfaatnya, dengan ketentuan orang yang menerima benda tersebut memberi tukaran sebagai bayaran penggunaan manfaat barang yang dipergunakan tersebut.
Seorang yang membutuhkan tempat tinggal misalnya, dalam mendapatkan tempat tinggal berupa rumah, jika orang tersebut belum mampu untuk membuat rumah sendiri atau membeli rumah, maka ia tidak harus membeli rumah, tapi bisa juga dengan menyewa suatu rumah untuk ditempati dengan batasan waktu tertentu dan dengan ujrah atau upah tertentu, sesuai dengan kesepakatan antara orang yang menyewakan (mu`jir) dan orang yang menyewa (musta`jir).
Untuk lebih jelasnya makalah ini akan membahas masalah sewa-menyewa tersebut dalam kaitanya dengan pengertian ijarah, dasar-dasar hukum, rukun dan syarat-syaratnya serta membahas masalah pembagian ijarah beserta hukumnya. Dengan harapan semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca terutama pemakalah.

B.     Rumusan Masalah
  1. Bagaiman pengertian serta dasar hukum ijarah ?
  2. Apa saja yang menjadi rukun serta syarat ijarah ?
  3. Apa macam-macam ijarah dan hukumnya ?




BAB II
Pembahasan
A.    Pengertian Ijarah dan Dasar Hukum Ijarah
Pengertian Ijarah
Perkataan ijarah menurut bahasa berarti upah, atau sewa.
Sedang yang dimaksud ijarah menurut istilah syara` ialah: memberikan suatu benda kepada seseorang untuk diambil manfaatnya dari benda tersebut, dengan ketentuan orang yang menerima benda tersebut memberi tukaran sebagai bayaran penggunaan manfaat barang yang dipergunakan tersebut.
Sewa menyewa (Ijarah) dapat berupa menyewa rumah untuk ditempati, menyewa tanah untuk ditanami, menyewa seorang ibu untuk menyusui anaknya, menyewa gedung untuk kantor dan sebagainya.[1]
Dalam redaksi lain ijarah adalah (menjual manfa`at)
Untuk lebih jelasnya akan dikemukakan beberapa definisi ijarah menurut pendapat beberapa ulama fiqh;
ü  Ulama Hanafiyah; ijarah merupakan “akad atas suatu kemanfaatan dengan pengganti”.
ü  Ulama Asy-Syafi`iyah; ijarah adalah “akad atas suatu kemanfaatan yang mengandung maksud tertentu dan mubah, serta menerima pengganti atau kebolehan dengan pengganti tertentu.
ü  Ulama Malikiyah dan Hanabilah, mengartiakanya “menjadikan milik suatu kemanfaatan yang mubah dalam waktu tertentu dengan pengganti.
Menurut jumhur ulama fiqh ijarah adalah menjual manfaat dan yang boleh disewakan adalah manfaatnya bukan bendanya. Oleh karena itu mereka melarang menyewakan pohon untuk diambil buahnya, domba untuk diambil susunya, sumur untuk diambil airnya, dan lain-lain, sebab semua itu bukan manfaatnya tapi bendanya.[2]
Dasar Hukum Ijarah
Hampir semua ulama fiqih sepakat bahwa ijarah disyariatkan dalam islam. Adapun golongan yang tidak menyepakatinya antara lain; Abu Bakar Al-Asham, Ismail Ibn Aliah, Hasan Al-Bashri, Al-Qasyani, Nahrawi dan Ibn Kaisan, mereka beralasan bahwa ijarah adalah jual beli kemanfaatan yang tidak dapat dipegang (tidak ada). Sesuatu yang tidak ada tidak dapat dikatakan jual beli.
Dalam menjawab pandangan ulama yang tidak menyepakati ijarah, Ibn Rusyd berpendapat bahwa kemanfaatan walaupun tidak berbentuk, dapat dijadikan alat pembayaran menururt kebiasaan (adat).
Jumhur ulama berpendapat bahwa ijarah disyariatkan berdasarkan;
1)   Al-Qur`an (Ath-Thalaq: 6)
…. 4 ÷bÎ*sù z`÷è|Êör& ö/ä3s9 £`èdqè?$t«sù …..
“…..kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu Maka berikanlah kepada mereka upahnya….”

2)   Al-Qur`an (Al-Qashash: 26-27)
ôMs9$s% $yJßg1y÷nÎ) ÏMt/r'¯»tƒ çnöÉfø«tGó$# ( žcÎ) uŽöyz Ç`tB |Nöyfø«tGó$# Èqs)ø9$# ßûüÏBF{$# ÇËÏÈ   tA$s% þÎoTÎ) ߃Íé& ÷br& y7ysÅ3Ré& y÷nÎ) ¢ÓtLuZö/$# Èû÷ütG»yd #n?tã br& ÎTtã_ù's? zÓÍ_»yJrO 8kyfÏm ( ÷bÎ*sù |MôJyJø?r& #\ô±tã ô`ÏJsù x8ÏZÏã ( !$tBur ߃Íé& ÷br& ¨,ä©r& šøn=tã 4 þÎTßÉftFy bÎ) uä!$x© ª!$# šÆÏB tûüÅsÎ=»¢Á9$# ÇËÐÈ  
Artinya:
26. Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".
27. Berkatalah Dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku Termasuk orang- orang yang baik".

3)   Hadis Aisyah
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِى عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رضى الله عنها زَوْجَ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم - قَالَتْ وَاسْتَأْجَرَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَأَبُو بَكْرٍ رَجُلاً مِنْ بَنِى الدِّيلِ ، هَادِيًا خِرِّيتًا وَهْوَ عَلَى دِينِ كُفَّارِ قُرَيْشٍ  فَدَفَعَا إِلَيْهِ رَاحِلَتَيْهِمَا  وَوَاعَدَاهُ غَارَ ثَوْرٍ بَعْدَ ثَلاَثِ لَيَالٍ بِرَاحِلَتَيْهِمَا صُبْحَ ثَلاَثٍ
Dari Urwah bin Zubair bahwa sesungguhnya Aisyah ra. Istri Nabi berkata: Rasulullah  dan Abu Bakar menyewa seorang laki-laki dari Bani Ad-Dayl, penunjuk jalan yang mahir, dan ia masih memeluk agama orang kafir Quraisy. Nabi dan Abu Bakar kemudian menyerahkan kepadanya kendaraan mereka, dan mereka berdua menjanjikan untuk bertemu di Gua Tsaur dengan kendaraan mereka setelah tiga hari pada pagi hari selasa (HR. Al-Bukhari).[3]  
4)   Ijma`  
Umat islam pada masa sahabat telah berijma` bahwa ijarah dibolehkan sebab bermanfaat bagi manusia.
B.     Rukun dan Syarat Ijarah
Menurut Jumhur ulama, rukun ijarah ada 4, yaitu:
1.      `Aqid (orang yang aqad).
2.      Shighat akad.
3.      Ujrah (upah).
4.      Manfaat.
    Syarat Ijarah
1.    Syarat Terjadinya Aqad
            Syarat ini berkaitan dengan `aqid, zat aqad, dan tempat.
Menurut ulama Hanafiyah,`aqid disyaratkan harus berakal dan mumayis, dan tidak disyaratkan harus baligh, akan tetapi jika bukan barang miliknya, akad ijarah anak mumayyis dipandang sah bila telah diizinkan walinya.
Ulama Malikiyah berpendapat bahwa tamyis adalah syarat ijarah dan jual beli, sedangkan baligh adalah syarat penyerahan. Dengan demikian akad anak mumayis adalah sah, tetapi bergantung atas keridaan walinya.
Ulama Hanabilah dan Syafi`iyah mensyaratkan orang akad harus mukallaf, yaitu baligh dan berakal, sedangkan anak mumayis belum dapat dikategorikan ahli akad.
2.    Syarat Pelaksanaan (An-Nafadz)
Agar ijarah terlaksan, barang harus dimiliki `aqid atau ia memiliki kekuasaan penuh untuk akad (ahliah). Dengan demikian ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diizinkan pemiliknya) tidak dapat menjadikan adanya ijarah.
3.    Syarat Sah Ijarah
Keabsahan ijarah sangat berkaitan dengan `aqid (orang yang akad), ma`qud `alaih (barang yang menjuadi obyek akad), ujrah (upah), dan zat akad (nafs al-`aqad), yaitu:
a)    Adanya keridaan dari kedua pihak yang akad.
Syarat ini didasarkan firman Allah;
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 Ÿwur (#þqè=çFø)s? öNä3|¡àÿRr& 4 ¨bÎ) ©!$# tb%x. öNä3Î/ $VJŠÏmu ÇËÒÈ  

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang Berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimuSesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.(QS. An-Nisa`: 29)
Ijarah dapat dikategorikan jual beli sebab mengandung unsur pertukaran harta.
b)   Ma`qud `alaih bermanfaat dengan jelas.  
Adanya kejelasan ma`qud `alaih menghilangkan pertentangan diantara `aqid.
Diantara cara untuk mengetahui ma`qud `alaih (barang) adalah dengan menjelaskan manfaatnya, pembatasan waktu, atau menjelaskan pekerjaan jika ijarah atas pekerjaan atau jasa seseorang.[4]
c)    Ma`qud `alaih (barang) harus memenuhi syara`.
Dipandang tidak sah menyewa hewan untuk berbicara pada anaknya, karena hal itu sangat mustahil, begitu juga menyewa perempuan yang sedang haid untuk membersihkan masjid sebab diharamkan syara`.
d)   Kemanfatan benda dibolehkan menurut syara`.
Pemanfatan barang harus digunakan untuk perkara-perkara yang diperbolehkan syara`, seperti menyewa rumah untuk didiami, jaring untuk memburu, dan lain-lain.
e)    Tidak menyewa untuk pekerjaan yang diwajibkan kepadanya.
Seperti menyewa orang untuk shalat fardu, puasa , dan lain-lain.
f)    Tidak mengambil manfaat bagi diri orang  yang disewa.
Tidak menyewakan diri untuk perbuatan ketaatan, karena manfaatnya kembali pada dirinya, juga tidak mengambil manfaat dari sisa pekerjaannya, seperti menggiling gandum dan mengambil bubuknya atau tepungnya untuk dirinya.
g)   Manfaat ma`qud `alaih sesuai dengan keadaan yang umum.
Tidak boleh menyewa pohon untuk dijadikan jemuran atau tempat lindung, sebab tidak sesuai dengan manfaat yang dimaksud dalam ijarah.
4.    Syarat Barang Sewaan (ma`qud `alaih)
Diantara syarat barang sewaan adalah dapat dipegang atau dikuasai. Hal ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW, yang melarang menjual barang yang tidak dapat dipegang atau dikuasai, sebagaimana dalam jual beli.
5.    Syarat Ujrah (upah)
Para ulam telah menetapkan syarat upah, yaitu:
a.       Berupa harta tetap yang dapat diketahui.
b.      Tidak boleh sejenis dengan barang manfaat ijarah, seperti upah menyewa rumah untuk ditempati dengan menempati rumah tersebut.
6.    Syarat yang kembali pada Rukun Akad
Akad disyarat harus terhindar dari syarat-syarat yang tidak diperlukan atau syarat-syarat yang merusak akad, seperti menyewakan rumah dengan syarat rumah tersebut akan ditempati oleh pemiliknya selama sebulan, kemudian diberikan kepada penyewa.
7.    Syarat Kelaziman
Syarat kelaziman ijarah terdiri atas dua hal berikut;
a.       Ma`qud `alaih (barang sewaan) terhindar dari cacat.
Jika terdapat cacat, penyewa boleh memilih antara meneruskan denagan nmembayar penuh atau membatalkanya.
b.      Tidak ada uzur yang membatalkan akad.
Ulam Hanafiyah berpendapat bahwa ijarah batal karena adanya uzur. Uzur yang dimaksud adalah sesuatu yang baru yang menyebabkan kemadaratan bagi yang akad, uzur dikategorikan menjadi tiga macam;
§  Uzur dari pihak penyewa, seperti berpindah-pindah dalam mempekerjakan sesuatu sehingga tidak menghasilkan apa-apa, atau pekerjaan sia-sia.
§  Uzur dari pihak yang disewa, seperti barang yang disewakan harus dijual untuk membayar utang dan tidak ada jalan lain, kecuali menjualnya.
§  Uzur pada barang yang disewa, seperti menyewa kamar mandi, tetapi menyebabkan penduduk dan penyewa harus pindah.
Menurut jumhur ulama, ijarah adalah akad lazim, seperti jual beli. Oleh karen itu, tidak bisa batal tanpa adanya sebab yang membatalkan. Menurut ulam Syafi`iyah, jika tidak ada uzur, tetapi masih memungkinkan untuk diganti dengan barang lain, ijarah tidak batal. Ijarah dapat dikatakan batal jika kemanfaatanya benar-benar hilang.[5]
C.  Macam-macam Ijarah dan Hukumnya
Ijarah ada dua macam:
1.      Ijarah atas manfaat, disebut juga sewa-menyewa dimana obyek akadnya adalah manfaat dari suatu benda. Hukumnya dibolehkan atas manfaat yang mubah, seperti rumah untuk tempat tinggal. Adapun manfaat yang diharamkan maka tidak boleh disewakan, karena barangnya disewakan. Dengan demikian tidak boleh mengambil imbalan untuk manfaat yang diharamkan ini, seperti bangkai dan darah.
2.      Ijarah atas pekerjaan, disebut juga upah-mengupah, dan obyek akadnya adalah amal atau pekerjaan seseorang. Ijarah ini merupakan suatu akad ijarah untuk untuk melakukan suatu perbuatan tertentu. Misalnya membangun rumah, menjahit pakaian, mengangkut barang dan sebagainya. Orang yang melakukan pekerjaan disebut ajir atau tenaga kerja.
Ajir atau tenaga kerja ada dua macam:
1.    Ajir atau tenaga kerja khusus, yaitu orang yang bekerja pada satu orang untuk masa tertentu. Dalam hal ini ia tidak boleh bekerja pada orang lain. Contohnya orang yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada orang tertentu.
2.    Ajir atau tenaga kerja musytarak, yaitu orang yang bekerja pada lebih dari satu orang sehingga mereka bersekutu didalam memanfaatkan tenaganya. Contohnya tukang jahit. Hukumnya ajir tersebut boleh bekerja untuk semua orang, dan orang yang menyewa tenaganya tidak boleh melarangnya bekerja pada orang lain. Ia (ajir) tidak berhak atas upah kecuali dengan bekerja.[6]
           










BAB III
Penutup
Kesimpulan
            Ijarah menurut istilah syara` ialah: memberikan suatu benda kepada seseorang untuk diambil manfaatnya dari benda tersebut, dengan ketentuan orang yang menerima benda tersebut memberi tukaran sebagai bayaran penggunaan manfaat barang yang dipergunakan tersebut. Ijarah ini berdasarkan  Al-Qur`an (Ath-Thalaq: 6) dan (Al-Qashash: 26-27), Hadis Aisyah, dan ijma`.
            Menurut Jumhur ulama, rukun ijarah ada 4, yaitu: `Aqid (orang yang aqad), shighat akad, ujrah (upah), dan manfaat. Sedang syarat iajarah anatara lain: syarat terjadinya aqad, syarat pelaksanaan (an-nafadz), syarat sah ijarah, syarat barang sewaan (ma`qud `alaih), syarat ujrah (upah), syarat yang kembali pada rukun akad, syarat kelaziman.
            Ijarah ada dua macam: ijarah atas manfaat, disebut juga sewa-menyewa dimana obyek akadnya adalah manfaat dari suatu benda dan ijarah atas pekerjaan, disebut juga upah-mengupah, dan obyek akadnya adalah amal atau pekerjaan seseorang.















Daftar Pustaka
Umam, Chatibun. 1995. Fiqih Untuk Madrasah Tsanawiyah. Kudus: Menara Kudus.
Syafe`I, Rachmat. 2004. Fiqih Muamalah. Bandung: Pustak Setia.
Muslich, Ahmad Wardi. 2010. Fiqh Muamalah. Jakarta: Amzah.





























[1] Prof. DR. H. Chatibun Umam. Fiqih Untuk Madrasah Tsanawiyah. Hlm: 219.
[2] Prof. DR. Rachmat Syafe`I, MA. Fiqih Muamalah. Hlm: 121-122.
[3] Drs. H. Ahmad Wardi Muslich. Fiqh Muamalah. Hlm: 318-319.
[4] Prof. DR. Rachmat Syafe`I, MA. Fiqih Muamalah Hlm: 123-124.
[5] Ibid. Hlm: 128-130
[6]Drs. H. Ahmad Wardi Muslich. Fiqh Muamalah. Hlm: 329-333.