Sabtu, 03 Desember 2011

Zakat


Mata Pelajaran          : Fiqh
Satuan Pendidikan    : Madrasah Tsanawiyah
Kelas/ Semester          : VIII/ I
Setandar Kompetensi:                     
3          Melaksanakan tata cara zakat
Kompetensi Dasar:
3.1       Menjelaskan ketentuan zakat fitrah dan zakat mal
3.2       Menjelaskan orang yang berhak menerima zakat
3.3       Mempraktekkan pelaksanaan zakat fitrah dan zakat mal 
Indikator:         
3.1.1    Siswa dapat menjelaskan pengertian zakat fitrah
3.1.2    Siswa dapat menjelaskan syarat zakat fitrah
3.1.3    Siswa dapat menjelaskan rukun zakat fitrah    
3.1.4    Siswa dapat menjelaskan waktu mengeluarkan zakat fitrah
3.1.5    Siswa dapat menjelaskan pengertian zakat mal
3.1.6    Siswa dapat menjelaskan syarat wajib zakat mal
3.1.7    Siswa dapat menjelaskan rukun zakat mal
3.1.8    Siswa dapat menjelaskan harta yang wajib dizakati
3.1.9    Siswa dapat mengerti nisab binatang ternak
3.2.1    Siswa dapat menjelaskan siapa saja yang berhak menerima zakat  fitrah dan zakat mal
3.3.1    Praktek melaksanakan zakat fitrah dan zakat mal
3.3.2    Siswa dapat menjelaskan hikmah zakat









MATERI PEMBAHASAN
A.    Pengertian Zakat
Zakat menurut etimologi berarti, berkah, bersih, berkembang dan baik. Dinamakan zakat karena, dapat mengembangkan dan menjauhkan harta yang telah diambil zakatnya dari bahaya. Menurut Ibnu Taimiyah hati dan harta orang yang membayar zakat tersebut menjadi suci dan bersih serta berkembang secara maknawi.
Zakat menurut terminologi berarti, sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah subhanahu wata'ala. untuk diberikan kepada para mustahik yang disebutkan dalam Al-quran. Atau bisa juga berarti sejumlah tertentu dari harta tertentu yang diberikan untuk orang tertentu.
Zakat merupakan bentuk kepedulian dalam membentuk perekonomian umat yang lebih kuat. Zakat harus dilaksanakan oleh setiap orang Islam yang telah memenuhi ketentian.[1]
Lafal zakat dapat juga berarti sejumlah harta yang diambil dari harta orang yang berzakat.
Zakat dalam al-Quran dan Hadis kadang-kadang disebut dengan sedekah, seperti firman Allah subhanahu wata'ala. yang berarti,
õè{ ô`ÏB öNÏlÎ;ºuqøBr& Zps%y|¹ öNèdãÎdgsÜè? NÍkŽÏj.tè?ur $pkÍ5 Èe@|¹ur öNÎgøn=tæ ( ¨bÎ) y7s?4qn=|¹ Ö`s3y öNçl°; 3 ª!$#ur ììÏJy íOŠÎ=tæ
"Ambillah zakat (sedekah) dari harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah buat mereka, karena doamu itu akan menjadi ketenteraman buat mereka." (Q.S. At Taubah, 103)[2]
B.     Macam-macam Zakat
Zakat terbagi menjadi dua macam. Sebagai berikut;
1.   Zakat fitrah
Zakat fitrah disebut juga zakat nafs. Menurut istilah zakat fitrah adalah zakat diri yang wajib dikeluarkan oleh orang Islam baik laki-laki, perempuan, besar, kecil, merdeka maupun hamba sahaya pada waktu bulan ramadlan.
Hukum mengeluarkan zakat fitrah adalah fardlu `ain (wajib dilaksanakan oleh setiap orang Islam baik laki-laki, perempuan, besar, kecil, merdeka/ bukan budak).[3]
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
Rasulullah SAW, telah mewjibkan zakat fitrah untuk membersihkan diri orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan perkataan yang kotor serta untuk memberi makan kepada orang-orang miskin (H.R. Abu Dawud)
a)      Syarat-syarat Wajibnya Zakat Fitrah
Zakat Fitrah wajib dikeluarkan dengan syarat-syarat sebagi berikut:
1.      Beragama Islam, tidak diwajibkan kepada orang kafir.
2.      Orang itu ada waktu terbenamnya matahari pada malam idul fitri.
3.      Orang itu mempunyai kelebihan makanan, baik untuk dirinya maupun keluarganya, pada malam hari raya dan siang harinya.
b)     Rukun Zakat
Rukun zakat fitrah adalah segala sesuatu yang harus ada pada waktu pelaksanaan zakat fitrah, jika tidak ada salah satunya, zakat tersebut tidak sah. Rukun tersebut adalah;
1)   Niat untuk menunaikan zakat fitrah dengan ikhlas, semata-mata karena Allah SWT.
2)   Ada orang yang menunaikan zakat fitrah
3)   Ada orang yang menerima zakat fitrah
4)   Ada barang atau makanan pokok yang dizakatkan.[4]
c)      Waktu Mengelurkan Zakat Fitrah
Zakat fitrah ini boleh dibayar sejak awal bulan ramadlan secara ta`jil (didahulukan), sampai dengan hari raya idul fitri sebelum shalat id. Waktu pembayaran zakat fitrah adalah:
1)   Waktu yang diperbolehkan, yaitu mulai tanggal 1 Ramadlan, sampai dengan penghabisan bulan ramadlan sebelum terbenamnya matahari.
2)   Waktu yang diwajibkan, yaitu semenjak terbenam matahari, pada akhir bulan ramadlan sampai dengan sebelum shalat subuh pada tanggal 1 syawal.
3)   Waktu afdhal (sunnah), yaitu waktu sesudah shalat subuh, pada tanggal 1 syawal sampai dengan sebelum shalat id.
4)   Waktu makruh, yaitu setelah shalat id, sampai sebelum terbenam matahari pada tanggal 1 syawal.
5)   Waktu haram, yaitu setelah terbenam matahari pada tanggal 1 syawal, kalau pemberian pada waktu ini, bukan disebut zakat, tetapi hanya sedekah biasa.
Cara membayar zakat boleh secara langsung kepada orang yang berhak, atau kepada panitia penerima dan penyalur zakat. Sedang harta yang dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah makanan pokok yang berlaku di negrinya, yaitu ada yang berupa gandum, beras, sagu, jagung dll. Ukurannya sebanyak satu sha`: 3,5 liter (2,5 kg) untuk ukuran di Indonesia.
2.   Zakat Mal (Harta)
Zakat mal adalah mengeluarkan sebagian harta kekayaan (berupa binatang ternak, hasil tanaman, emas, perak, harta perdaganga dan kekayaan lain) diberikan kepada yang berhak menerimanya setelah memenuhi persyaratan dikeluarkanya zakat.
Hukum mengeluarkan zakat mal adalah wajib bagi yang sudah memenuhi syarat.
a.             Syarat Wajib Zakat Mal
1)      Islam
2)      Baligh (dewasa pikiranya)
3)      Berakal sehat
4)      Merdeka
5)      Miliknya sendiri
6)      Sudah mencapai satu nisab (sesuai dengan harata yang dizakatinya)
7)      Telah mencukupi haul (satu tahun), kecuali hasil pertanian dan barang temuan
b.             Rukun Zakat Mal
1)      Niat menunaikan menunaikan zakat mal dengan ikhlas semata-mata karena Allah SWT.
2)      Ada orang yang menunaikan zakat mal
3)      Ada orang yang menerima zakat mal
4)      Ada barang atau makanan pokok yang dizakatkan
c.         Harta yang Wajib Dizakati
Harta yang wajib dizakati menurut sebagian ulama` ada lima macam, yaitu emas, perak, mata uang (zakat nuqud), perdagangan/ perniagaan (zakat tijarah), hasil pertanian (zakat zira`ah), peternakan (zakat an`am), dan hasil temuan (zakat rikaz).
1.      Zakat emas, perak, dan mata uang (zakat nuqud)
Emas dan perak dizakati apabila cukup nisabnya (sampai batas yang ditentukan (sampai batas yang ditentukan), sebagai berikut;
·         Nisab emas 93,6 gram, zakatnya 2,5 % (1/40)
·         Nisab perak 672 gram, zakatnya 2,5 % (1/40)
·         Nisab uang sama dengan nisab emas.
2.      Zakat perdagangan/ perniagaan (zakat tijarah)
Zakat harta perdagangan/ prniagaan wajib dikeluarkan jika nilainya dalam satu tahun ternya seharga emas yang wajib dikeluarkan zakatnya. Dengan demikian berarti, nisab harta perdagangansama dengan nisab emas  (93, 6 gram), zakat yang harus dikeluarkan 2,5%.
3.      Zakat hasil pertanian (zakat zira`ah)
Zakat hasil pertanian yaitu zakat yang dikeluarkan atas jumlah kekayaan seorang muslim dalam satu musim panen, jika sudah mencapai nisabnya. Adapun ketentuan nisabnya, kalau hasil panen itu sudah mencapai 5 wasaq (653 kg) pada setiap panenya, maka zakat yang dikeluarkan adalah:
·         5% untuk tumbuhan yang diairi memakai ongkos
·         10% untuk tumbuhan yang diairi air hujan (tanpa ongkos)
4.      Zakat peternakan
Ternak yang wajib dizakati, antara lain: unta, sapi/ kerbau, dan kambing. Secara rinci ketentuanya adalah sebagai berikut
a)    Nisab dan Zakat Unta
1.    5 ekor unta zakatnya 1 ekor kambing
2.    10 ekor unta zakatnya 2 ekor kambing
3.    15 ekor unta atau lebih zakatnya 3 ekor kambing
4.    20 ekor unta atau lebih zakatnya 4 ekor kambing
5.    25 ekor unta atau lebih zakatnya 1 ekor unta umur 1-2 tahun.
b)   Nisab dan Zakat Sapi/ Kerbau
1)   30-39 ekor sapi/ kerbau zakatnya 1 sapi/ kerbau (umur 1-2 tahun)
2)   40-59 ekor sapi/ kerbau zakatnya 1 sapi/ kerbau betina (umur 2-3 tahun)
3)   Tiap-tiap 40 ekor sapi/ kerbau zakatnya 1 sapi/ kerbau (umur 2-3 tahun)
c)    Nisab dan Zakat Kambing
1)   40-120 ekor kambing zakatnya 1 kambing (umur 2-3 tahun)
2)   121-200 ekor kambing zakatnya 2 kambing (umur 2-3 tahun)
3)   201-300 ekor kambing zakatnya 3 kambing (umur 2-3 tahun)
4)   301-400 ekor kambing zakatnya 4 kambing (umur 2-3 tahun)
5)   Tiap-tiap bertambah 100 kambing zakatnya 1 ekor kambing.[5]
d.        Waktu Mengeluarkan Zakat Mal
1)   Zakat emas, perak dan uang dikeluarkan setiap satu tahun
2)   Zakat perdagangan dibayar setiap sudah genap satu tahun
3)   Zakat hasil pertanian dikeluarkan setiap kali panen
4)   Zakat peternekan dikeluarkan jika sudah cukup satu nisab dan dimilikinya cukup satu haul (setahun)
5)   Zakat barang temuan dibayar setelah habis batas waktu pemberitahuan dan tidak ada yang mengaku akan barang tersebut.
e.         Zakat Harta Temuan (Zakat Rikaz)
          Barang temuan berupa emas dan perak jika mencapai satu nisab harus dikeluarkan zakatnya dan tidak harus menunggu satu tahun (haul), zakat yang dikeluarkan adalah 20% dari harta yang ditemukan.
C.    Orang-Orang yang Berhak Menerima Zakat
                 Orang-orang yang berhak menerima zakat disebutkan dengan jelas dalam al-Qur`an.
$yJ¯RÎ) àM»s%y¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»|¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur Îûur È@Î6y «!$# Èûøó$#ur È@Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒOÅ6ym  
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Penerima zakat terdiri dari 8 golongan, sebagai berikut;
1)        Fakir : orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
2)        Miskin : orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
3)        Amil (pengurus zakat), yaitu orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
4)        Muallaf, yaitu orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah.
5)        Hamba sahaya ( budak) : yaitu orang yang tidak mempunyai kebebasan karena menjadi milik orang lain.
6)        Gharim (orang berhutang), yaitu orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya.
7)        Sabilillah : Yaitu orang yang berjuang dijalan Allah
8)        Ibnu sabil, yaitu orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat, demi tugas-tugas agama.[6]
D.    Hikmah Zakat
Tujuan utama zakat adalah membersihkan dan menyucikan baik harta kekayaan maupun pemiliknya, adapun yang lain antara lain;
1)         Untuk mensyukuri nikmat Allah
2)         Untuk meringankan beban ornag lain
3)        Untuk menjauhkan diri dari sifat kikir dan sifat-sifat tercela lainya
4)        Untuk menumbuhkan sikap kasih saying antar sesame
5)        Mengobati hati dan cinta dunia
6)        Mengembangkan kekayaan batin.










DAFTAR PUSTAKA
Zakarsi, Imam. Pelajaran Fiqih II. Ponorogo: Tri Murti Pres. 1995
Sholeh, Star.  Fiqh VIII MTs.
Ibrahim dan Darsono. Penerapan Fiqih untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. 2008
Al-Azhar. Panduan Belajar Siswa Kelas III MTs. Anugrah Agung


[1]  T. Ibrahim dan H. Darsono. “Penerapan Fiqih untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah”. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, hlm;34
[2] Qur`an Surat: At Taubah, 103
[3] Star Sholeh, Fiqh VIII MTs, hlm; 38-39
[4] T. Ibrahim dan H. Darsono. “Penerapan Fiqih untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah”. Solo: PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, hlm; 36
[5] KH. Imam Zakarsi. Fiqih I. Ponorogo: Tri Murti Pres. 1995, hlm; 5
[6] Star Sholeh. Fiqh VIII MTs. hlm; 41

Selasa, 29 November 2011

Kecerdasan Emosional


B. Kecerdasan Emosional

1. Pengertian emosi

            Kata emosi berasal dari bahasa latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Menurut Daniel Goleman (2002 : 411) emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran. Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia, karena emosi dapat merupakan motivator perilaku dalam arti meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia. (Prawitasari,1995)
 Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas : Desire (hasrat), hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy (kegembiraan). Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam emosi, yaitu : fear (ketakutan), Rage(kemarahan), Love (cinta).  Daniel Goleman (2002 : 411) mengemukakan beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan kedua tokoh di atas, yaitu :
a. Amarah                    : beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati
b. Kesedihan                : pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi   diri,  putus asa
c. Rasa takut                : cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, waspada, tidak tenang, ngeri
d. Kenikmatan             : bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur, bangga
e. Cinta                        : penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih
f. Terkejut                    : terkesiap, terkejut
g. Jengkel                     : hina, jijik, muak, mual, tidak suka
h. malu                                    : malu hati, kesal
 Seperti yang telah diuraikan diatas, bahwa semua emosi menurut Goleman pada dasarnya adalah dorongan untuk bertindak. Jadi berbagai macam emosi itu mendorong individu untuk memberikan respon atau bertingkah laku terhadap stimulus yang ada. Dalam the Nicomachea Ethics pembahasan Aristoteles secara filsafat tentang kebajikan, karakter dan hidup yang benar, tantangannya adalah menguasai kehidupan emosional kita dengan kecerdasan. Nafsu, apabila dilatih dengan baik akan memiliki kebijaksanaan; nafsu membimbing pemikiran, nilai, dan kelangsungan hidup kita. Tetapi, nafsu dapat dengan mudah menjadi tak terkendalikan, dan hal itu seringkali terjadi. Menurut Aristoteles, masalahnya bukanlah mengenai emosionalitas, melainkan mengenai keselarasan antara emosi dan cara mengekspresikan (Goleman, 2002 : xvi).
Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 65) orang cenderung menganut gaya-gaya khas dalam menangani dan mengatasi emosi mereka, yaitu : sadar diri, tenggelam dalam permasalahan, dan pasrah. Dengan melihat keadaan itu maka penting bagi setiap individu memiliki kecerdasan emosional agar menjadikan hidup lebih bermakna dan tidak menjadikan hidup yang di jalani menjadi sia-sia.
            Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar dirinya.

2. Pengertian kecerdasan emosional

Istilah “kecerdasan emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun 1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.
Salovey dan Mayer mendefinisikan kecerdasan emosional atau yang sering disebut EQ sebagai :
“himpunan bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan sosial yang melibatkan kemampuan pada orang lain, memilah-milah semuanya dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.” (Shapiro, 1998:8).
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan. (Shapiro, 1998-10).
            Sebuah model pelopor lain yentang kecerdasan emosional diajukan oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tututan  dan tekanan lingkungan (Goleman, 2000 :180).
            Gardner dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind (Goleman, 2000 : 50-53) mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik, interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut  sebagai kecerdasan emosional.
Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari :”kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif.” (Goleman, 2002 : 52).
Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain.” Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”. (Goleman, 2002 : 53).
            Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut, Salovey (Goleman, 200:57) memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
            Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
            Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.

3. Faktor Kecerdasan Emosional

Goleman mengutip Salovey (2002:58-59) menempatkan menempatkan kecerdasan pribadi Gardner dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama, yaitu :
a.   Mengenali Emosi Diri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer (Goleman, 2002 : 64) kesadaran diri adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga individu mudah menguasai emosi.
b.   Mengelola Emosi
Mengelola emosi merupakan kemampuan individu dalam  menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan kita (Goleman, 2002 : 77-78). Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan.
c.   Memotivasi Diri Sendiri
Presatasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme, gairah, optimis dan keyakinan diri.
d.   Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga empati. Menurut Goleman (2002 :57) kemampuan seseorang untuk mengenali orang lain atau peduli, menunjukkan kemampuan empati seseorang. Individu yang memiliki kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu untuk mendengarkan orang lain.
      Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih mampu menyesuiakan diri secara emosional, lebih populer, lebih mudah beraul, dan lebih peka (Goleman, 2002 : 136). Nowicki, ahli psikologi menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa frustasi (Goleman, 2002 : 172). Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain. 
e.   Membina Hubungan
Kemampuan dalam membina hubungan merupakan suatu keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi (Goleman, 2002 : 59). Keterampilan dalam berkomunikasi merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina hubungan. Individu sulit untuk mendapatkan apa yang diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan orang lain.
Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi (Goleman, 2002 :59). Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina hubungan dengan orang lain. Sejauhmana kepribadian siswa berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang dilakukannya.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mengambil komponen-komponen utama dan prinsip-prinsip dasar dari kecerdasan emosional sebagai faktor untuk mengembangkan instrumen kecerdasan emosional

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Mudzakir. (1997). Psikologi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia.
Goleman, Daniel. (2000). Emitional Intelligence (terjemahan). Jakata : PT Gramedia Pustaka Utama.
Goleman, Daniel. (2000). Working With Emotional Intelligence (terjemahan). Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Gottman, John. (2001). Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional (terjemahan). Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Irwanto.  (1997). Psikologi Umum. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Mila Ratnawati. (1996). Hubungan antara Persepsi Anak terhadap Suasana Keluarga, Citra Diri, dan Motif Berprestasi dengan Prestasi Belajar pada Siswa Kelas V SD Ta’Miriyah Surabaya. Jurnal Anima Vol XI No. 42.
Moch, Nazir. (1988). Metodologi Penelitian.Cetakan 3. Jakarta :Ghalia Indonesia.
Morgan, Clifford T, King, R.A Weizz, JR, Schopler. J, 1986. Introduction of Psychology, (7th ed), Singapore : Mc Graw Hil Book Company
Muhibbin, Syah. (2000). Psikologi Pendidikan dengan Suatu Pendekatan baru. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Nana, Sudjana. (2001). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Cetakan ketujuh. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Ratna Wilis, D. (1996). Teori-Teori Belajar. Jakarta : Penerbit Erlannga.
Saphiro, Lawrence E. (1998). Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak. Jakarta : Gramedia.
Sarlito Wirawan. (1997). Psikologi Remaja. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Sia, Tjundjing. (2001). Hubungan Antara IQ, EQ, dan QA dengan Prestasi Studi Pada Siswa SMU. Jurnal Anima Vol.17 no.1
Sri, Lanawati. (1999). Hubungan Antara Emotional Intelligence dan Intelektual Quetion dengan Prestasi Belajar Siswa SMU.Tesis Master  : Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Sumadi, Suryabrata. (1998). Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada .
Sumadi, Suryabrata. 1998. Metodologi Penelitian. Cetakan sebelas. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Saifuddin, Azwar. (1997). Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta : Pustaka Balajar Offset.
Saifuddin Azwar. (1998). Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukutan Prestasi balajar. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
Suharsono. (2002). Melejitkan IQ, IE, dan IS. Depok : Inisiasi Press.
Sutrisno Hadi. (2000). Statistik 2. Yogyakarta : Andi Offset.
Syaiful Bakrie D. (1994). Prestasi belajar dan kompetensi guru. Surabaya : Usaha Nasional.
Winkel, WS (1997). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta : Gramedia.

Minggu, 27 November 2011

HUBUNGAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN


PENDAHULUAN
  1. LATAR BELAKANG
                   Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula agama. Ilmu pengetahuan memperindah akal dan pikiran. Agama memperindah jiwa dan perasaan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama membuat manusia merasa nyaman. Ilmu pengetahuan melindungi manusia terhadap penyakit, dan musibah-musibah di dunia. Agama melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran yang picik. Ilmu pengetahuan mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan manusia dengan dirinya.
B.     PERUMUSAN MASALAH
1.      Apa hubungan ilmu pengetahuan dan agama ?
2.      Dapatkah ilmu pengetahuan dan agama saling menggantikan tempat masing-masing ?
C.     PEMBAHASAN
1.      Sudah jelas bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan 2 bagian pokok dari sisi manusiawi.
         Manusia baru dapat memiliki pengetahuan kalau dia menentang perintah Tuhan (tidak menaati ajaran agama dan para Nabi) dengan alasan itulah manusia terusir dari Tuhan.
Seperti dalam ayat 22 – 23 :
Dan Tuhan Allah berfirman, “Lihatlah, lelaki itu menjadi seperti kami, tahun yang baik dan yang buruk. Dan kini, jangan sampai dia mengulurkan tangannya, lalu memetik [buah] dari pohon kehidupan, kemudian makan [buah itu] dan hidup abadi.”3[1]
Hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama dapat dibahas dari 2 sudut pandang. Sudut pandang yang pertama adalah kita lihat apakah ada sebuah agama yang konsepnya melahirkan keimanan.
Sudut pandang yang kedua membahas hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan adalah bagaimana agama dan ilmu pengetahuan berpengaruh pada manusia.
Ilmu pengetahuan memberikan kita cinta, harapan dan kehangatan. Ilmu pengetahuan membantu menciptakan peralatan dan mempercepat laju kemajuan, agama menetapkan maksud upaya manusia dan sekaligus mengarahkan upaya tersebut, ilmu pengetahuan membawa revolusi lahiriyah ( material ). Agama membawa revolusi Batiniyah (Spiritual).
Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini Dunia manusia, agama menjadikan kehidupan sebagai kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan dan agam sama-sama memberikan kekuatan kepada manusia. Namun, kekuatan yang diberikan oleh agama adalah berkesinambungan, sedangkan kekuatan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan terputus.
2.      Antara agama dan ilmu pengetahuan tak ada pertentangan, justru keduanya saling mengisi. Ilmu pengetahuan tak dapat menggantikan peran agama, karena agama memberikan kasih sayang, harapan, cahaya, dan kekuatan, agama meninggikan nilai kita, membantu mewujudkan keinginan kita. Begitu pula agama juga tak dapat menggantikan peran ilmu pengetahuan, melalui ilmu pengetahuan kita dapat mengenal alam, kita dapat mengetahui hukum alam, dan kita pun dapat mengenal siapa diri kita sendiri.
Dan agama tanpa ilmu pengetahuan berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, dan tak dapat mencapai tujuan. Kalau tak ada ilmu pengetahuan, agama menjadi alat bagi orang-orang pandai yang munafik.
Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah seperti sebilah pedang tajam di tangan pemabuk yang kejam. Juga ibarat lampu di tangan pencuri, yang digunakan untuk membantu si pencuri mencuri barang yang berharga di tengah malam.
D.    KESIMPULAN
Ilmu pengetahuan tanpa agama bagaikan sebilah pedang yang tajam di tangan pemabuk yang kejam, yang artinya orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi tanpa dilandasi dengan agama orang tersebut tidak bisa mengendalikan agama dan ilmu pengetahuan saling berkaitan dan saling mengisi.



Daftar Pustakan
Studi Islam IAIN SUNAN AMPEL Surabaya, pengantar studi ISLAM. Surabaya 2005.
Muthahhari Murtadha, Manusia dan Alam Semesta : Pustaka Nasional Jakarta : Lentera 2006.


3 Petikan dari The Holy bible, 1611 M. The British and Foreign bible Society, London.